Arsip Bulanan: Maret 2007

lelah melangkah selama 2 tahun, 2 bulan, 20 hari, terseok-seok dalam keindahan, hingga berakhir pada sebuah persimpangan. hingga akhirnya diputuskan untuk tak lagi berjalan beriringan, meski hati kecil ini mempertanyakan, kebodohankah ini?

semoga memang ini yang terbaik. jika memang bukan yang terbaik, semoga diberikan yang terbaik.

terima kasih atas segalanya,
maafkan aku yang tak henti menyayat hatimu,
jaga dirimu..

ku tak kan (pernah) bisa hapuskanmu dari hidupku

mungkin ruang yang ada di antara kita sudah kian melebar, hingga tak sanggup bagi kita untuk saling mengijinkan untuk melangkah mendekat memasukinya. hingga untaian antara kita tak kuasa menahan apa yang sebelumnya sudah tertahan.

adalah hati kecil yang (dulu) bisa menahanku sampai kini, meskipun perih berceceran darah penuh luka, meskipun tersengal-sengal kehilangan nafas, meskipun asa itu (pernah, dan seringkali) hilang.

maafkan aku.

kini ku tak sanggup, mungkin demikian juga buatmu. mungkin sudah bukan waktunya untuk kita, untuk aku dan kamu disebut sebagai kita.

adakalanya selamat tinggal adalah kata terindah yang bisa terucap..

belakangan ini blogku jarang terjamah, bisa dibilang terbengkalai. sepi isi, sepi promosi, sepi pengunjung :P bisa dibilang ini gara2 kehadiran istri baruku yang butuh perhatian spesial. sempet ngambek gitu si awalnya, rewel, tapi nggak bisa disalahin gitu aja, itu juga karena kebodohanku :) maklum lah, pengantin baru.. ;) bener2 baru lo, blom ada seminggu malah, masih seger2nya :D

ya udah, daripada penasaran, langsung aja aku kenalin istri baruku.. Baca Lebih Lanjut »

pagi, dalam redup senyum mentari, bersimbah rintik gerimis bergelayut mendung. longgarkan ikatan temali pada pilar lapuk, tumbuhkan kuntum mekaran indah bebunga – seolah wajib tuk berkerling padanya. Adalah waktu, yang tunjukkan betapa sulitnya bertahan tanpa pilar yang kian lapuk, dan betapa mekarnya kuntum2 cantik atas hadirku. bahwasanya aku tak bisa kehilangan sekaligus menggapai keduanya. dan kala badai merundung, oleh tempaan pilar dan rintihan bunga nan tak terdengar, oleh sahutan petir, oleh riak alir sungai, bersama naungan tanah lapang.
adalah sepi, yang menahanku berada di sini, sampai nanti.

seorang rekan beberapa waktu lalu mengirimkan email ke milis alumni suatu organisasi yang dulu saya ikuti sewaktu SMU, yang kemudian saya post ke blog kami (atas nama dia tentunya). isinya tentang rumah. home, not house. tentang bagaimana kita mengesampingkan rumah kita ketika rantau, namun tetap tidak bisa melupakan kedudukannya yang sangat penting sebagai asal-muasal. seorang teman juga pernah menuliskan hal yang senada, mengenai kehidupan asli kita itu apakah ketika di rantau ataukah ketika kita pulang (kembali ke rumah).

hidup rantau memang nggak pernah bisa lepas dari keinginan untuk pulang. meskipun terkadang hasrat itu tak bisa terwujud karena satu dan lain hal. dan ketika terwujud pun, kita masih belum bisa terpuaskan akan kondisi yang ada, baik di tempat tujuan maupun tempat yang ditinggalkan. seperti beberapa minggu yang lalu, misalnya, kala aku pengin banget pulang ke Semarang, tapi terbentur oleh kepentingan-kepentingan dan tanggung jawab yang tidak semudah itu untuk ditinggalkan (atau ditanggalkan :?: ) dan kemudian ketika tembok penghalang itu satu-persatu runtuh, tidak ada lagi alasan yang bisa menahan untuk tidak pulang. namun ketika apa yang sangat diinginkan itu akhirnya kesampaian, bukan berarti hal yang kita harapkan setelahnya terwujud. do you know what i mean?

Baca Lebih Lanjut »

buat yang nggak tau beryl itu apa, beryl tu window manager (desktop) di linux. ya, temen2nya GNOME, KDE, ato XFCE lah.. cuma (katanya) mirip MAC OS X ato vista. lengkapnya liat sendiri aja deh ya. klo video dibawah ini memperlihatkan salah satu feature beryl : drag and drop.

satu kata : istimewa!

jadi nggak sabar..