[siap2, ini bakalan panjaaaaaanngg...]

Tulisan ini bukan ditulis karena menanggapi tulisan di sini atopun di sini, cuma memang karena miris ngeliat peristiwa taon lalu (yang diperkirakan tidak akan terjadi lagi taon ini) terulang.. Prihatin denger kata2 “aku I*S, ven,,” berbumbu muka2 seperti itu, berkali-kali, ndak cuma satu-dua orang, ironi yang sama seperti yang terjadi padaku taon lalu.

Buat yang tau critanya, bisa langsung skip ke bawah.

[flash back starts here]

Taon lalu, aku ambil sebuah mata kuliah wajib, sebut saja PR, dengan dosen bapak SI yang kemudian harus menyerahkan amanatnya kepada bapak SR (yang kompetensinya jauh di atas bapak SI, maap pak SI :roll: ) karena beliau harus melanjutkan studinya ke Taiwan (lagi). Dulu, kami diminta ( :?: ) untuk membuat kelompok (2 orang) yang menelaah suatu paper yang berkaitan dengan mata kuliah tersebut, yang kemudian harus kami presentasikan ke pak SR.

Sampe akhirnya masa2 gelap itu tiba, satu per satu kelompok dieksekusi sementara kelompok laen menanti keputusan akan nasibnya. Ternyata, semuanya membentuk sebuah pattern tertentu (ups, kok jadi mengarah ke hal tertentu :roll: ), dimana hampir setiap mahasiswa yang telah berhasil bertahan untuk bisa keluar ruangan eksekusi dengan selamat, namun memiliki masa depan yang tidak secerah yang mereka bayangkan sebelumnya. Baik yang memutuskan untuk mengambil paper itu sebagai topik (atau judul) Tugas Akhir-nya, atau mengulang.

Mengulang? Ya, karena pilihan yang disodorkan waktu itu adalah, ambil sebagai judul, atau buat programnya. Pilihan susah, karena program yang harus dibuat itu memang selevel TA, thesis, atau disertasi, bukan sekedar tugas mata kuliah 3 sks. Dan jikalau pun memilih untuk membuat program, kemudian program itu tidak selesai dalam jangka waktu tertentu, maka sampai ketemu taon depan dengan mata kuliah yang sama.

Ternyata aku termasuk kelompok yang beruntung karena hanya satu orang yang harus menjadi tumbal terhadap keselamatan teman satunya, karena dulu, aku yang memutuskan untuk mengambil judul itu, dengan banyak pertimbangan tentunya. Namun setelah melalui pertimbangan masak2 selama satu semester, akhirnya diputuskan untuk berkhianat, yang mengakibatkan temanku harus menggantikan aku menjadi tumbal. Yang, herannya, bisa diterima oleh bapak SR dengan baik (kliatan dari nggak adanya bentakan, apalagi gebrakan meja, dan munculnya senyum yang memang jarang terlihat).

[flash back ends here]

Tahun ini, kejadian yang sama terulang. Padahal nyata2 beliau bukan dosen pengajarnya, namun ‘hanya’ turut mendampingi ibu AM yang baru mulai mengajar mata kuliah itu tahun ini.

Huff, susah, banyak sisi yang musti diliat memang..
(sampe2 aku bingung nentuin judul untuk post kali ini *ndak penting* )

Okelah, seorang dosen berhak dalam kehidupan akademis mahasiswa yang mengambil mata kuliah yang diajarnya. Sebatas nilai, sepele memang. Namun apa yang terjadi jika nilai yang akan diberikan itu menentukan nasib masa depan seorang (atau banyak orang)??? Ya, TA itu masa depan, dan itu berkaitan dengan bidang minat, apalagi judulnya. Bidang minat itu ada untuk menyalurkan minat MAHASISWA terhadap suatu topik yang ada di subyek studi-nya, bukan minat DOSEN atas topik2 yang ’sebaiknya’ mahasiswa ambil. Apalagi judul.

Saya akan sangat amat sepakat jika kehadiran bantuan semacam ini ditujukan kepada orang2 yang memang membutuhkan bantuan bimbingan, atau kepada yang sedang kejar setoran (redefinisi kejar setoran :P ) namun hanya bisa ‘melongo’ melihat semakin menipisnya supply dosen dikarenakan (terlalu) banyak yang sedang mendalami ilmunya di negeri orang, dan tidak banyak dosen yang tersisa yang bisa benar2 membantu dan mendampingi mahasiswa dalam TA-nya. Atau diperuntukkan kepada yang memang benar2 berniat ke arah sana, atau apalah itu, yang jelas nggak membelenggu kebebasan mahasiswa untuk memilih.

Kalo ngomongin masalah pilihan emang nggak bakal bisa kelar2, pilihan itu terlalu banyak, pilihan bidang minat, topik, judul, ambil apa nggak, lulus kapan, ato mo kuliah brapa lama, itu smua pilihan, yang mana emang udah jadi haknya sebagai mahasiswa dan musti brani ambil resiko dan konsekuensinya kalo ambil suatu pilihan tertentu. Salut buat beberapa orang yang mempertahankan pilihannya dan berani mengambil resikonya.

Tentang motif, kalo emang berniat membantu dan memberi pencerahan, kenapa nggak dengan cara yang lebih mencerahkan, seperti dengan memberikan pilihan yang lebih mudah, bukan pilihan hidup-mati seperti itu. Contoh, misal, diberi pertimbangan : jika kamu ambil bidang minat ini, saya bisa bantu dampingi, ini beberapa topik yang cocok buat kamu, atau ini mungkin menarik dan sesuai dengan level (intelegensia?) kamu. delelel, tanpa unsur paksaan. At least berilah kebebasan untuk mengambil keputusan yang cerdas, bukan keputusan atas pilihan yang benar2 terbatas yang memang benar2 dibutuhkan nyali tersendiri untuk mengambil keputusan yang tidak mengikuti mainstream.

Kalo kata guguk di setatus YMnya :

apakah sesuatu yang dipaksakan itu jelek? apakah pilihan sendiri itu yang terbaik? padahal semuanya serba abu-abu… kita hanya tau sebatas permukaannya saja…. choose wisely if you confuse about your way…

Umm, iya si guk, bener, (klo kata ustadz pas dulu aku jumatan di RS Haji) baik dan jelek itu biasanya subyektip, selaras sama kepentingan seseorang ato ndak. Cuma, kalo sesuatu itu dipaksakan setelah kita mengambil keputusan, itu namanya baik? apalagi kalo yang dipaksakan itu ndak sejalan sama apa yang udah diputuskan, hayooo :P soalnya ada beberapa yang musti ‘mengesampingkan ego-nya’ dengan berpaling dari apa yang sudah diputuskannya kepada apa yang dipaksakan terhadapnya. Kasian :?

Agak miris juga ngliat peristiwa beberapa taon lalu (kok kayanya dah lama banget ya?) tentang perlawanan (mati2an?) terhadap pembelengguan kebebasan dalam hal kemahasiswaan ke ‘pemerintah pusat’, tapi sekarang, ketika dihadapkan pada ‘kehidupan nyata di lingkungan sekitar’, ciut. Memang si, determinasi bapak SR luar biasa (salut pak :? ), bahkan juga terhadap dosen lain, apalagi ke mahasiswa.

Mungkin hal ini perlu mendapat pertimbangan khusus oleh wadah aspirasi (?) kemahasiswaan di kampus, kalo tradisi ini diteruskan, ndak tau lah, ndak bisa kira2 aku. Yang jelas kalo kita ndak terbiasa dituntut untuk melakukan smart-decision-making, ya kita ndak bakal pernah jadi seorang decision-maker yang baik. Membabu selamanya :?

*terlalu extreme kali ven*

mmm, tapi kalo emang ada (banyak?) yang masih ngganjel (terutama ‘korban’), kan ya ndak ada salahnya ngomongin baek2 tentang hal beginian ke jurusan, atau malah dekanat. Taon lalu benernya udah jadi subyek pembicaraan, hanya saja, ndak tau ni kok masih aja kejadian.

yah, cuma bisa berpesan, pilihlah apa yang menurut kamu baik, bukan yang menurut orang laen baik, karena apa yang baik untuk orang laen blom tentu baek untuk kita. Kalo bisa malah minta petunjuk ke yang Maha Tahu akan kebaikan sejati, apakah keputusan yang akan diambil itu baik apa enggak. Dan ketika keputusan sudah dijatuhkan, guyz, you’ve grown enough to take responsibilities for any decision you’ve made ;)

stand still!

21 Komentar

  1. yah, yang bisa menilai baik atau buruknya kan hati. jadi serahkan pada hati kita masalah penilaiannya :) . klo emg blm bs membuat keputusan yang dirasa sesuai dengan hati nurani sendiri ya ngulang tahun depan g masalah. setidaknya bisa mengambil keputusan dengan hati, bukan dengan ego ataupun ketakutan…

  2. hehehhe…. maaf, bukannya g ada masalah, tapi apa yah kata kata yang tepat. bingung soalnya… :) .

  3. piye yo ven….
    jare ibu ku seh, pemaksaan sesuatu yang baik itu ndak pa pa, terbukti emg beliau beberapa kali memaksakan kehendak terhadap saya dengan alasan “demi kebaikan saya”

    saya setuju caranya emg “tidak wajar” tapi bukan kah itu sudh wajar karena
    1. emg orangnya gt
    2. sepertinya emg cari pengikut (hamba2 yang tersesat)
    3. emg beliau care dan intens ma mahasiswa nya (meski dengan pressing tingkat tinggi)
    4. apa emg peminat bidang tsb kurang?
    5. dan banyak alasan pribadi beliau yang ga mungkin saya tanyakan

    dibalik itu semua ya ada temenku yang bisa ngerjain TA dengan beliau dan lulus lebih cepat dari ak (yg notabene lolos dari beliau), nah lo (dengan asumsi yang berguguran saat berjuang mungkin jauh lebih banyak daripada yang lolos)
    bukannya mentalitas kita itu bisa karena terpaksa? (setidaknya itu mental saya)
    karena deadline, proyek, pengen lulus, jarang yang pengen karena ingin
    kalo ga mentalnya kaya gitu sih bagus

    peace

  4. @guk2 : sip, i got the point. cuma ndak smua orang ndak masalah dengan mengulang taon depan coz musti ikut kejar tayang :roll:
    @mas galih : iya mas, bener emang si, cuma kalo sesuatu itu dijalankan dengan ndak ikhlas tu kan ya ndak dapet apa2 selain nggrundel sendiri :P ya itu, berani menghadapi konsekuensi atas apa yang dipilihnya, mahasiswa gituhh..

  5. ndak mau komen banyak ah :P
    katanya (guyonannya) si ucup: “pak r***y mikir paling koen (aku maksudnya) iku guoblok, jadi nggak pengen aku mencemari prestasinya dia, wkwkwkwkwkwkwk”
    cuman, bagi mahasiswa yang orientasi kejar setoran gitu (kecuali si udin tuh :P ), IBS media yang bagus lho…, aku yakin mereka mampu

  6. yg jelas sesuatu yg dilaksanakan secara sukarela / tidak dipaksakan PASTI akan lebih bagus, enjoy, & enak dari yg dipaksakan..

    itu sudah hukum dari sono nya..
    jadi BERJUANGLAH !!!

    Ini perjuangan kita Bung !!!
    Ikuti apa kata hati Anda..

  7. :cry:

  8. *ngakak-guling2-banting2*

  9. @dr : kep, kep, segitu ‘kotor’ nya dirimu, sampe2 beliau tidak sudi menerima dirimu :lol: btw, kok nyebut2 gtu, emang yang dsebut2 itu bener beliau ya? :roll:

    @ridho : blom tentu dho, klo akhirnya bisa menerima keputusan (yang awalnya dipaksakan) dengan ikhlas ya bakal enjoy2 aja :P

    @dea : jadi, sampe ketemu taon depan d’? :roll:

  10. @guguk: kalo ga salah, dulu topiknya kamu ganti kan? sama kayak chiman kan?

  11. @galih > maaf lih, bukan maksdq ngomong g masalah. aq juga ngerti kok soalnya tetep akan masuk agenda ke pertanggungjawaban ke ortu… :) .

  12. @dr: yeps… bener kep.

  13. @vendd : lha kalo bisa menerima keputusan dgn ikhlas itu kan berarti “sukarela” … gmn sih om …
    yg kasian itu ya yg itu td.. yg sampe akhir hayat msh terpaksa mengikuti jalan kegelapan di dalam Davy Jones’ Locker..
    satu-satunya jalan utk keluar ya harus melalui dulu yang namanya the world’s end..
    =)

  14. No comment
    (lha lapo terus?)

  15. @ridho : ya maksudku, awalnya terpaksa, tapi kemudian bisa menerima.. dan menjalankan amanah itu dengan baik :) gtu ponakan.. :P

  16. wah sadis juga… pernah diceritain sama nanin sama dwi… tuh…
    mungkin bisa belajar dari elektro…
    Rencana dari jurusan itu ketika ngambil mata kuliah penulisan ilmiah (skrg namanya bahasa indonesia) nah ada penugasan mencari judul di situ…..(matkulnya diambil biasanya 1 semester sebelum TA)
    nah judul itu akhirnya nanti di pake di TA.
    Katanya sih supaya ngak susah2 cari judul….. (gak repot gitu loh..)

    Tapi itu ketentuan…
    teman2 biasanya ngak pake itu
    nyari bahan trus konsultasi dengan dosen yg mungkin berkepentingan dengan judul TA yg diinginkan….

  17. @arul : umm, udah pernah ketemu ‘orangnya’ ? :?

  18. @venddd :: maksudnya dosennya? blum…. cuman pernah diceritakan sama anak2 TC.. hehehe

  19. wah… sampeyan berarti kategori sing endi?

    sing nggerutu pas nang mburi opo sing endi?

    Peace….:D

    :P

  20. mas ven, blog’e sampean salah siji sing digoleki karo dosen resmine. jare g melu kelase kok melu2 ae. btw blogku kenek pisan :grin:

  21. hampir sama kayak pengkaderan,

    maba says: gak mau dipaksa-paksa, melanggar HAM, dll….
    setelah pengkaderan: …………[jawaban beragam]….

    masi jadi kontroversi……

    if kita anggap itu baik, then kita gak nyesel

    if kita anggap pemaksaan, then ngerjain gak ikhlas, nyesel lulus dengan TA gak populer


3 Lacak Balik / Ping Balik

  1. Oleh Heart X Mind » Blog Archive pada 01 Jul 2007 jam 3:15 am

    [...] lagu dibawah cocok untuk beberapa kasus ini, kasus itu, cerita ini, salah satu isi suara [...]

  2. Oleh Denting Lonceng Hati Never Been TA-ed (Part 2) « pada 01 Jul 2007 jam 5:07 am

    [...] erat berkaitan dengan apa yang sedang nge-trend di kampus. Buat yang gak ngerti, silahkan baca di sini. Males kalo harus nulis [...]

  3. Oleh Aksi = Reaksi « Mata Pendosa pada 05 Jul 2007 jam 11:15 am

    [...] 5th, 2007 · No Comments udah pada baca tragedi ini kan? klo blum, coba baca dl d.. klo udah baca, baru boleh lanjut [...]

Tulis sebuah Komentar

*
*