Seperti yang dijanjikan pada post ini, post kali ini adalah tentang cerita pengalaman bulan puasa, tepatnya pengalaman taon lalu.
PERINGATAN!!
kisah ini tergolong panjang dan mengandung kekerasan.
Cerita dimulai dari datangnya undangan buka bersama impromptu, lumayan, kesempatan buat reunian setelah 3 taon mencar ke kesibukan kuliah masing2. Acara digelar di rumah rani, aku lupa nama jalan dan daerahnya, tapi ingat pasti lokasinya dimana, di sekitar jalan masuk kampus UNDIP atas. Rumah yang penuh kenangan dimana kita juga dulu pernah kumpul2 bareng, iseng2, ngerasani temen2 laen, membahas strategi jalinan kisah cinta, membahas rencana gokil buat malem minggu, ato sekedar nemenin rani yang ditinggal keluarganya jalan2 ndak tau kemana.
Setengah 5, masih sepi, cuma ada punggawa-punggawa yang memang mengkoordinir acara, termasuk tuan rumah tentunya. Menit demi menit berlalu, satu per satu undangan hadir. Sambil diwarnai saling tanya menanya, masih ingatkah tentang ini, itu, dirinya, dan kita? Katalog angkatan pun ditelaah, melihat foto jadul dengan seragam putih-putih di bukit gombel sebelah lapangan golf ternama itu. Telunjuk jari berkeliaran, sesekali berhenti dan terdengar tebakan nama, dan dongeng peristiwa yang menyertainya.
Dan bedug pun bertabuh, tanda berbuka. Tidak sampai 30an orang yang hadir. Lumayan, cukup untuk mengobati kerinduan akan perpisahan sejenak itu. Semua orang masih tampak sama, seperti beberapa tahun lalu, dengan ciri, topik pembicaraan, dan ekspresi wajah khas masing-masing. Hanya saja, kini kita punya kehidupan masing-masing, yang sudah pasti tak sama. Hidangan es tak bernama ditemani gorengan menjadi penghangat suasana kekeluargaan yang menyelimuti. Suasana yang sangat dirindukan, seperti telah sangat lama tak dirasakan.
Usai sholat maghrib berjemaah di masjid ujung jalan, gurauan dan canda terangi petang yang kian menggelap. Obrolan ringan, cerita pengalaman, kabar, dan kenangan masa-masa dulu menjadi topik yang tak terelakkan. Jaringan komunikasi pun dijalin, dengan metode berantai, sehingga informasi mengenai event-event di masa depan bisa disebarkan dengan praktis.
Menyerah dengan kondisi perut yang tak berhenti berteriak-teriak, diputuskan untuk dinner bersama pada suatu warung yang jadi langganan anak kampus daerah situ. Dinner yang sangat ramai. Bayangkan saja jika sampai harus menyambung meja2 lesehan dari ujung pintu masuk sampai ke dekat dapur tempat pemesanan. Suasana hangat tak kunjung padam oleh malam yang kian menggelayut. Dinner sederhana yang tidak sebentar itu terasa sangat amat singkat.
Singkat, hingga tak tersadar bahwa sudah waktunya untuk berpisah kembali. Bahwa masing-masing akan kembali ke kehidupannya kini, sambil terkenang pada bayangan indah masa lalu dari bengalnya gerombolan anak SMU. Setelah bersalaman macam halal bi halal, semua beranjak meninggalkan warung yang memang menunggu kami pergi agar mereka bisa segera tutup. Kami kembali ke rumah rani.
Dan kisah pun dimulai.
Sedang asyiknya berkendara malam-malam bersama Isa, sobat karib semasa SMU, sambil mengenang masa-masa dulu kala kami menjelajah ke pelosok Semarang tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba kami dikagetkan dengan bunyi klakson dari mobil yang tidak asing. Ya, itu mobil teman kami, elma namanya, kalo tidak salah ingat. Secara naluri, aku berhenti dan melihat ke arah mobil yang kini berada beberapa meter dibelakangku itu. Rupanya mobil itu berhenti beberapa saat sebelum aku dan isa lewat. Turun dari motor, aku menghampiri mereka. Tidak ada laki-laki dalam mobil itu, hanya ada elma, dan 2 orang temannya. Mereka semua terlihat panik.
“ada apa?”
“itu ven, kita dari tadi dicegat sama orang itu”
elma mencoba mengumpulkan keberanian untuk menunjuk orang yang dimaksud. Terlihat olehku dua orang tak dikenal di atas sepeda motor honda merah-hitam. Body languagenya menyiratkan emosi dan ketidaksabaran, menunggu dan mengamati kami dari kejauhan.
“emang kalian salah apa?”
“nggak tau ven, tadi tiba2 disuruh brenti di tengah jalan”
“ya udah, sini aku yang setir sampe rumah rani, kalian tenang aja”
Akupun menggantikan posisi elma dibalik kemudi, menyalakan mobil, dan menginjak gas, mencoba menyembunyikan betapa gemetarnya juga tubuhku, segala macam logika mampet. Dan benar, baru beberapa meter bergerak, mereka menghentikan kami dengan memalangkan sepeda motornya di tengah jalan. Satu orang turun, berbadan kekar, kulit putih, rambut panjang, dan tatapan mata tajam.
“stop mas!!”, hardiknya.
“yang laen terus!” , bentaknya ke teman-temanku yang mengendarai motor.
Entah karena takut, tidak ingin terjadi masalah serius, atau memang tak bisa memikirkan cara lain, aku pun menurut. Mobil kuhentikan. Jalanan yang sempit dan tanpa badan jalan tak memungkinkan untuk sebuah mobil berhenti tanpa menyumbat aluran lalu lintas malam itu. Konser klakson pun terdengar nyaring. Orang yang menghardikku pun kembali ke motor dan melaju kencang ke depan. Aku hanya bisa bertanya-tanya, dan melanjutkan perjalanan.
Tidak ada 100 meter di depan, ternyata mereka tlah menunggu. Mereka kini menemukan tempat ideal untuk melakukan operasi yang entah mau apa mereka dari kami ini. Si kekar kulit putih itu kemudian nangkring di jendela pintuku, sisi driver, memamerkan lengan yang besarnya seukuran paha normal orang dewasa dan berhiaskan tattoo. Sampai sini aku masih belum tahu apa mau mereka.
“Surat-surat mas,,” , pintanya.
“lho, ada apa mas, kok kita diberentiin tiba2, trus sekarang dimintain surat2?”, tanyaku.
tanda tanya besar kini menyala berkedip-kedip di atas kepalaku.
“tadi itu temen kamu kan?”
“yang mana mas? temen kita banyak, kita dari acara reunian SMU”
“iya mas, kita salah apa mas, kok dibeginiin?”
GEPLAAKKKKK!!!
Lengan segede gaban itu pun mendarat empuk tepat di mukaku, diringi dengan jeritan tertahan dari kursi belakang. Aku tidak sempat menghindar, bahkan tidak sempat berpikiran untuk menghindar, karena begitu cepatnya lengan besar itu terayun. Terhenyak, kaget campur terpental, terdiam, speechless, bingung. Mimpi apa aku kemarin malam kok sekarang jadi sandbag.
“mas, bentar dulu mas, ini masalahnya apa?”, tanyaku, memecah keheningan.
“udah sini surat2nya!!” hardiknya.
STNK diserahkan. Entah bagian mana yang dilihat. Sambil terisak-isak, karina, teman elma, mencoba bertanya.
“salah apa si kita ini mas? orang kita ini lo isinya cewek smua gini”
lah, aku ndak dianggep.
isak karina semakin menjadi, sepertinya jadi senjata yang meyakinkan, karena si kekar itu kini tak segarang tadi.
“loh, loh, kok nangis? iya, iya, sorry, sorry, kayanya kita salah deh”
salah gundulmu, lha kamu enak bisa tempeleng aku sak penak udhelmu dhewe.
Entah dari mana, tiba-tiba sugeng muncul, temanku yang berpengalaman dibidang beginian. Pertama sugeng mengobrol dengan orang yang masih berada di motor, dan kemudian mengajak bicara pada si kekar. Yang berada di motor pun berteriak, “bolo dhewe iki”.
Setelah bercakap-cakap sejenak dengan kedua orang itu, sugeng menghampiri kami.
“kalian nggakpapa kan? wes, lanjut aja, aku yang urus sisanya”
busyet, kalo kamu digebukin trus siapa yang bantuin?
“nunggu apalagi, kasian cewek2 ini”, lanjutnya.
Akupun menurut. (girl’s) Safety first, meskipun badan gemeteran setengah mati, entah emosi, takut, ato shock. Sampai di rumah rani, kami sudah ditunggu oleh semua teman-teman kami, plus orang tua rani. Cemas. Di sana kamipun saling bercerita mengenai apa yang terjadi pada masing-masing kami malam itu. Ternyata aku termasuk beruntung, karena ada salah seorang temanku yang dapet bogem mentah tepat di matanya, jadi lebam dan bengkak. Tapi badanku belum berhenti gemetaran.
“kamu nggakpapa ven?”,
“untung ada kamu ven”,
“kalo ndak, ndak tau deh gimana jadinya”, kata elma dan temen2nya.
iya2 ikhlas deh digampar demi kalian.
“sekarang yang perlu dicemaskan cuma kondisi sugeng”, kataku.
Selang beberapa saat, sugeng pun kembali, tak kurang suatu apapun. Dan badanku masih saja gemetaran. Bagaimanapun juga, Alhamdulillah. Tapi, sampai saat ini, kita masih blom tau apa yang mereka permasalahkan.
UPDATE :
baru inget, pas sugeng datang, dia bilang kalo dua orang itu mabok, kecium dari bau mulutnya yang menyengat.
lha padahal sebelum aku digeplak tu orangnya triak2 pas di depan mukaku, kok ya aku ndak cium bau2 aneh ya
trus dia bilang juga, kayanya mereka salah orang, soalnya sebelumnya mereka ngerasa tersinggung sama kelakuan pengendara motor yang dikiranya teman kita.

24 Komentar
sudah dikapling blum?
wakz.. keterlaluan yah orang itu… btw akhir ceritanya gimana dong?
orang itu ngapain? apa emang tukang palak?
sekalian hetrikz…
mmm… jalan mana tuh? kayaknya perlu hati2 deh lewat situ..
membaca yg diakhiri dengan kebingungan.. dirimu cerita apan seh?
@ aRuL :

dilarang petamax di sini
kayanya bukan substansial jalannya deh, tapi ada konteks lain..
ya itu akhirnya, kita smua pulang dengan gemetaran..
@ koecing :
cerita gampar2an d’ :mgreen:
what’s the point?
eh, parah nggak? minta arul ngompres pake es ya…
ya ampuuunnn…malangnya nasibmu ven. pahlawan kesiangan, eh malah kena bogem kekekekekk
huahuahuahua…
jadi inget ma sesuatu nih..
btw, well done, ven.. emang harus gitu demi para cewek-cewek..
@ arya :
the point is : gampar aja mang, orangnya pulang kampung!
@ cK :
yah, begitulah, at least i was man enough trying to help them out
meskipun..
@ EL :
sesuatu apa mal?
pernah dibegitukan juga ya?
dateng lagi ah..
*gampar mas vnd*
sepakat dea… hajar vendy!!! pukul! tonjok! tendang! banting!
lagi pengen mukul orang nih…
eh gak boleh… puasa2 sebaiknya tahan emosi…
Makanya vend
Jangan sok jagoan…
Jangan sok pamer di depan cewek…
Lihat tuh akibatnya…
@ koecing :
*tangkis, trus jewer kuping d’ sampe ampun2*
@ Rahmat Ihsan :
opo ae si met..
tunggu pembalasanku nanti malam
@ dnial :
aku ndak sok niel, cuma concern aja ke nasib mereka..
trus kalo bukan aku, yang notabene temen mereka dan satu2nya cowok di situ yang bisa nyupir mobil, siapa donk yang bantuin?
VOTE VENDY FOR
PAHLAWAN KESIANGANHERO!!!!*nagih amplop*
kasian kau, mas……
taun iki meh tanduk ra ??
ahhaaaa….
maaf, saya lagi sibuk TM…jadi ndak bisa komen
@ cK :
*kasi amplop kosong*
@ nieznaniez :
ndak papa si klo digampar buat belain kamu
*digampar naniez*
@ Mrs. Neo Forty-Nine :
kirain udah mutung ngeblog
*ngumpet sebelum dijitakin siwi*
seru juga kisahnya
untung ga kjadian lebi dr itu
*syereeem*
wah…kok ndak jadi ada tawuran massal?
*menanti adegan gebuk2an*
@ ‘K :
aku juga ndak nyangka..
@ Shelling Ford :
ada yang pengin ikutan gebukin joe?
Buahahahahaha emmmm….
Ndak calling saya Pend, tau gitu tak biarin, huahahahaha, BTW aneh juga, preman kampung berlagak FOLISI hehehehe…
Pas ke tembalang lagi setelah lebaran ntu ndak digebukin jugak kan? hahahaha
asem ik, kakean nulis…wes ah…
@ ndokceplok :
aku lo crita ke tita, dini, dll pas halal-bihalal kemarin, kayanya ndak ada yang percaya
sayangnya bekas memar nan biru udah mulai pudar, cobak bilang sayah nanti tak pertebal itu bekas sebagai bukti nya….
Buahahahaha…
@ ndokceplok :
kamu mau ta?
sini tak bikinin