Gunung klotok terletak cukup dekat dengan pusat kota Kediri. Kediri sendiri terletak sekitar 2,5 jam perjalanan dengan sepeda motor (80km/jam) dari Surabaya lewat Mojokerto – Jombang – Kertosono.
bentar, bentar, ngapain ven ke kediri???
ah, ndak penting..
kembali ke pokok bahasan.
Ekspedisi dilaksanakan pada hari sabtu malam petang, berangkat dari kawasan mojoroto dengan mobil panther yang memuat peserta ekspedisi : om iwan, tante nita, vendy, kiky, alip, dila, mbak muji, syifa, rara, dan mbak tini. Kondisi lalu lintas Kediri yang cukup lancar membuat tim ekspedisi sudah berada di tanjakan gunung tersebut hanya dalam hitungan menit.
Suasana jalan tanjakan menuju lokasi cukup mencekam, dengan lampu jalan yang cukup terang namun jarang, berhias pemandangan puncak gunung yang berbukit di sebelah kanan jalan, begitu dekat, sampai seakan terdapat panggilan misterius ‘tuk menuju ke sana. Jalan yang dilalui menambah kencang degup jantung, tergolong sempit untuk dilewati dua arah, dengan kondisi naik turun dan kelokan yang tak bisa ditebak, yang seringkali samasekali tanpa penerangan, gelap gulita.
Belum reda dengan suasana mencekam, tim ekspedisi sampai pada kawasan yang tidak disangka-sangka. Kawasan ini bernuansa remang-remang, dengan gubuk-gubuk bambu di kanan-kiri jalan, sebagian tak beratap, dengan lebar 1-2 meter, beberapa nyaris tak bercahaya, sisanya tanpa penerangan sama sekali. Nyaris tidak ada jeda ruang kosong bagi kendaraan untuk menepi, berselingan terdapat gubuk, sepeda motor, dan muda-mudi.
Muda-mudi berceceran dimana-mana, di dalam gubuk terang dengan atap terbuka, gubuk gelap remang-remang atap tertutup, di atas sepeda motor di pinggir jalan, bahkan lesehan beralaskan rumput. Muda-mudi yang seakan memanfaatkan fasilitas alam akan pemandangan indah, udara dingin sejuk, tempat terbuka, dan keremangan cahaya.
Semua aktivitas mereka terlihat sekelebat seiring lewatnya kendaraan ekspedisi dengan lampu dimm yang masih dinyalakan sejak melewati kawasan mencekam sebelumnya, cukup beralasan untuk tidak dimatikan memang karena pencahayaan di kawasan ini juga sama gelap remang-remang-nya.
Di sana ada yang beramai-ramai, sekedar mengobrol, bersenda gurau, namun tetap didominasi oleh yang berduaan, berdekat-dekatan, berpelukan, berasyik-masyuk di dunianya sendiri, tak peduli pada keramaian lalu lalang sesama mereka, maupun pada tim ekspedisi yang hanya bisa melongo sambil kelimpungan menerapkan sensor ketat kepada peserta yang masih dibawah umur, sampai tak sempat mengambil ‘cinderamata’.
Entah apa yang terjadi dibalik semak-semak yang tak tertembus cahaya lampu.

15 Komentar
vertamax dulu…
wah…ada kiky. pasti kalian #%@&%$# (disensor pendi)
Haduh … aku terakhir kali ke gunung Klotok pas aku SMA kelas 3. Abis itu seingatku ga pernah lagi. Jangan salah, dulu kalo pagi udaranya enak banget buat jalan – jalan. Dan cocok buat rekreasi keluarga. Sekarang tambah ga jelas aja tuh gunung. Udah dibangun macem – macem. Mendingan kayak dulu. Hanya ada Gua Selomangleng (sampeyan masuk ke guanya ga ?) dipayungi pohon – pohon yang rindang. Dan cuman sedikit orang jualan atopun orang – orang yang bermaksiat (baca : mojok). Duh, Dewi Kilisuci bakalan sedih kalo liat keadaan Selomangleng yang sekarang …
BTW, sampeyan nyapo nang kediri mas ? Lamaran ? (hihihi …).Ga mampir ke Purwoasri kan ? (mampir pun juga gpp :p, sapa yang peduli)
bacanya besok aja ah
asik nih
tak pikir ini baru opening, ternyata tiba2 udah sampe ke paragraf terakhir.
tujuan ekspedisinya tetap lebih mencurigakan…..
hayooo…apa itu…
*kabuurrr*
@ cK :
@ abdulmuneverlose :
kan udah tak jawab : “ada deh”
ndak mampir kok, yang di purwoasri cuma buat kamu nip..
@ GRaK :
asik?
@ nieznaniez :
iya, ya?
yawes, tak kasi ending wes :
and they live happily aver after
@ mardun :
tujuannya mencari udara segar
@ cK :
loh, bukannya kamu kemarin di sana chik?
Hiehehehe………
Dulu waktu ke Payung-Malang malem2 juga gitu, banyak pemandangan mesum…
Malah ada sekelompok cewek yang nyelipin surat cinta ke mobil.
)
@ dnial :
lah, lah, trus follow-up surat cintanya gimana?
Ya ndak digimanakan.
Saat itu masih waras kok…
Karena beberapa wanita yang ke payung dengan beberapa pria di jam 3 malam adalah tipe wanita yang harus dihadapi dengan hati-hati.
wes…..dadi nomere piro sing metu minggu ngarep??
@ dnial :
jadi inget cemet yang kenalan sama bunga – instrumentasi dari nomer HP yang dicantolin di wiper mobil
@ d’sangeh :
wah, nek nomer2an, awakmu kan luwih ahli ngeh
‘cinderamata’ itu apa?? jadi penasaran…